Provinsi
Lampung merupakan sebuah provinsi yang berada di paling selatan dari Pulau
Sumatera dengan luas sebesar 35.376,50 km² dan terletak diantara
105°45′-103°48′ BT dan 3°45′-6°45′ LS. Bagian barat Provinsi Lampung berbatasan
dengan Selat Sunda dan di sebelah timur dengan Laut Jawa. Beberapa pulau
termasuk dalam wilayah Provinsi Lampung, yang sebagian besar terletak di Teluk
Lampung, di antaranya: Pulau Darot, Pulau Legundi, Pulau Tegal, Pulau Sebuku,
Pulau Ketagian, Pulau Sebesi, Pulau Poahawang, Pulau Krakatau, Pulau Putus dan
Pulau Tabuan. Ada juga Pulau Tampang dan Pulau Pisang di yang masuk ke wilayah
Kabupaten Lampung Barat.
Keadaan
alam Lampung, di sebelah barat dan selatan, di sepanjang pantai merupakan
daerah yang berbukit-bukit sebagai sambungan dari jalur Bukit Barisan di Pulau
Sumatera. Di tengah-tengah merupakan dataran rendah. Sedangkan ke dekat pantai
di sebelah timur, di sepanjang tepi Laut Jawa terus ke utara, merupakan
perairan yang luas.Karena keadaan alam Lampung yang beragam maka pengembangan
wilayahnya difokuskan pada pengembangan lahan bagi perkebunan besar dan pengembangan
daerah pesisir untuk pariwisata dan komoditas perikanan. Jenis perkebunan yang
dikembangkan di Lampung terdiri kelapa sawit, karet, padi, singkong, kakao,
lada hitam, kopi, jagung, tebu, dan lain-lain. Sedangkan untuk komoditas
perikanan seperti tambak udang telah mencapai tingkat nasional dan
internasional.
Lampung
juga dikenal sebagai kota pelabuhan dimana Lampung merupakan pintu gerbang
untuk masuk ke Pulau Sumatra. Hal ini tentunya memberi keuntungan yang luar
biasa bagi Lampung karena hasil bumi yang melimpah tidak menutup kemungkinan
bagi banyak industri yang tumbuh di daerah pesisir panjang, Daerah Natar,
Tanjung Bintang, Bandar Jaya dan lain-lain. Kekayaan alam yang melimpah dan
letak Lampung yang strategis ini tentunya membawa pengaruh yang cukup besar
bagi kehidupan masyarakat Lampung itu sendiri terutama yang berada di daerah
pesisir. Karena semakin banyak investasi yang ditanamkan di daerah pesisir
seharusnya dapat memberi kesempatan untuk membuka lapangan pekerjaan bagi
masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan tersebut sehingga dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat pesisir. Namun pada kenyataannya kondisi masyarakat
pesisir sama sekali tidak tersentuh, mereka tetap menjadi nelayan miskin yang
sangat bergantung pada hasil tangkapan ikan di laut.
Kehidupan
Sosial Masyarakat Pesisir Lampung
Secara
umum sifat dan karakteristik masyarakat pesisir dipengaruhi oleh beberapa jenis
kegiatan seperti :
–
usaha perikanan tambak
–
usaha perikanan tangkap
–
usaha pengolahan hasil perikanan
Usaha-usaha
perikanan sendiri sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti lingkungan,
musim, dan pasar. Struktur masyarakatnya pun masih
sederhana dan belum banyak dimasuki oleh pihak luar karena budaya, tatanan
hidup, dan kegiatan masyarakatnya relatif homogen dan tiap individu merasa
punya kepentingan yang sama dan tanggung jawab dalam melaksanakan dan mengawasi
hukum yang sudah disepakati bersama.
Selain
itu, kehidupan masyarakat pesisir juga menunjukkan gambaran tentang sebuah
kehidupan masyarakat yang relatif terbuka dan mudah menerima serta merespons
perubahan yang terjadi. Hal ini dapat dimaklumi mengingat kawasan pesisir
merupakan kawasan yang sangat terbuka dan memungkinkan bagi berlangsungnya
proses interaksi sosial antara masyarakat dengan pendatang.
Seiring
dengan perkembangan jaman, kehidupan masyarakat pesisir sekarang ini terlihat
jelas semakin renggangnya solidaritas dan jalinan ikatan sosial yang ada pada
masyarakat pesisir, sebaliknya yang tampak kemudian adalah menguatnya gaya
hidup hedonis dan individualistis, khususnya di kalangan generasi muda.
Lemahnya ikatan solidaritas ini dapat dilihat dari berbagai persoalan yang
dihadapi oleh nelayan. Biasanya sangat jarang direspons secara bersama oleh
nelayan lainnya. Kalaupun ada solidaritas yang terbangun terbatas dalam satu
kawasan yang sama. Soldaritas sosial yang terbangun pada masyarakat pesisir
tebatas pada hal-hal yang bersifat fungsi dan peran, yang lain berarti bahwa
solidarits yang muncul bukan berangkat dari kesadaran akan arti penting solidaritas,
tapi lebih dikarenakan fungsi dan perannya dalam sistem yang ada. Dengan tipe
solidaritas seperti ini, maka tampilan realitas sosial masyarakat pesisir
sebenarnya mencirikan masyarakat urban.
Kondisi
tersebut mungkin tidak berlaku bagi masyarakat pesisir yang ada di Lampung,
dimana rasa solidaritas dan jalinan ikatan sosial di tempat ini masih cukup
tinggi. Hal ini terlihat pada kehidupan masyarakat pesisir yang ada di Teluk
Kiluan, dimana di tempat tersebut terdapat berbagai macam suku dan adat
istiadat yang berbeda-beda. Ada orang Bali, Jawa, dan orang Lampung asli yang
tinggal di satu kawasan tanpa memandang perbedaan yang ada dan selalu hidup
rukun serta senantiasa saling tolong-menolong dalam hal apapun. Mereka juga
saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Selain itu mereka juga saling
bergotongroyong dalam menjaga dan mengelola alam secara bijaksana agar
terhindar dari kerusakan lingkungan. Semua itu mereka lakukan dengan alasan
karena adanya keterikatan hati untuk menjaga warisan leluhur dan pemahaman akan
pentingnya menjaga lingkungan.
Kehidupan
Ekonomi Masyarakat Pesisir Lampung
Kehidupan
nelayan memang sangat rentan dalam hal ekonomi apalagi ketika mereka
semata-mata tergantung pada hasil penangkapan ikan dari laut. Ketika laut
semakin sulit memberikan hasil yang maksimal, maka hal ini merupakan ancaman
bagi keberlangsungan kehidupan ekonomi pada masa-masa selanjutnya. Meskipun
dari kegiatan melaut adakalanya memberikan hasil yang melimpah, namun tak
jarang pula bahkan seringkali hasilnya hanya bisa menutupi kebutuhan satu hari
saja. Sementara untuk esok harinya diserahkan pada hasil tangkapan yang akan
dilakukan, demikian seterusnya.
Rendahnya
kehidupan ekonomi nelayan ini tidak hanya ditandai oleh banyaknya benda atau
materi yang mereka miliki, tapi juga menyangkut masalah ketidakmampuan mereka
mengelola masalah keuangan keluarga. Kondisi rumah tangga nelayan biasanya
diwarnai oleh pola dan gaya hidup yang belum sepenuhnya berorientasi ke masa
depan. Ada beberapa bentuk bantuan ekonomi yang diberikan namun hal tersebut
bukan memacu kepada kemandirian dan pemerataan, tapi akhirnya bantuan tersebut
hanya dapat dinikmati oleh sekelompok individu atau perorangan saja.
Berbagai
bentuk bantuan dalam rangka peningkatan ekonomi nelayan tradisional baik yang
diberikan oleh pemerintah maupun LSM ternyata belum mampu menjawab persoalan
yang sebenarnya. Banyak bantuan yang akhirnya hanya mempaankan segelintir
orang, yang pada akhirnya melahirkan toke atau juragan baru di tengah-tengah
komunitas nelayan. Bantuan yang diberikan pun cenderung bersifat karitatif,
tanpa diiringi oleh upaya membangun kesadaran pada komunitas nelayan itu
sendiri. Sehingga yang terjadi adalah bahwa bantuan yang diberikan ibarat
memberikan ikan, bukan pancing.
Kehidupan
sosial masyarakat pesisir Lampung terutama yang ada di Teluk Kiluan, kondisi
seperti ini juga terjadi. Kehidupan masyarakatnya cenderung sederhana dan
bercukupan, dimana kepala keluarga hanya memperoleh hasil pendapatan dengan
bermatapencaharian sebagai nelayan. Untuk sesekali bila ada wisatawan yang
berkunjung mereka juga membantu dalam menyeberangkan wisatawan. Bentuk rumah
yang mereka tinggali juga masih sangat sederhana dan bersifat semi permanen.
Kapal atau perahu yang digunakan juga masih sederhana, mereka pun terkadang
menyampaikan bahwa sulitnya mengajukan bantuan dana dari pemerintah padahal
untuk memenuhi kebutuhan hidup sekarang ini sudah sangat mahal.
Kehidupan
Kultural Masyarakat Pesisir Lampung
Kehidupan
kultural yang mewarnai masyarakat pesisir hingga saat ini sangat erat kaitannya
dengan masalah nilai-nilai, sikap dan gaya hidup yang akrab dalam kehidupan
mereka sehari-hari. Kenyataannya ini sedemikian rupa sehingga dijalani setiap
hari dan menjadi sebuah kebiasaan yang akhirnya sulit untuk dirubah. Dan
akhirnya menjadi sebuah kewajaran dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan
dari kehidupan sehari-hari.
Salah
satu budaya masyarakat nelayan adalah menyangkut gaya hidup. Gaya hidup ini
yang adakalanya mengidentifikasi gaya hidup masyarakat di perkotaan, namun
tidak sepenuhnya. Hal ini terutama tergambar dari kalangan generasi mudanya.
Selain itu ada pula istilah “biar rumah condong asal gulai balomak”. Gambaran
ini memberi makna kurang lebih bahwa meskipun kondisi rumahmu tumbang asalkan tetap
makan enak. Ini merupaakn sebuah gambaran penilaian yang sering diberikan oleh
pihak luar. Gambaran lain tentang masyarakat nelayan adalah kecenderungan untuk
hidup boros. Penghasilan hari ini dihabiskan hari ini juga, sehingga akhirnya
nelayan tetap berada dalam keadaan yang tidak baik karena tidak pasti
penghasilan yang mereka peroleh dan apakah hari ini atau esok mereka akan
memperoleh penghasilan atau tidak terkadang tidak begitu dipikirkan.
Kehidupan
kultural seperti yang dijelaskan di atas, tidak begitu terlihat dalam kehidupan
masyarakat di Teluk Kiluan karena mereka berusaha untuk memberikan kehidupan
yang lebih baik bagi anak-anak mereka dengan berusaha menyekolahkan anak mereka
setinggi mungkin dengan harapan bila anaknya berhasil maka mereka dapat
membangun Teluk Kiluan agar dapat berkembang menjadi kawasan wisata yang
terkenal dan disukai oleh banyka wisatawan seperti kawasan wisata yang ada di
Bali.
Masyarakat
yang ada di Teluk Kiluan ini juga terdiri dari beberapa suku diantaranya orang
Bali, Jawa, dan Lampung. Meskipu demikian tiap suku saling menghormati dan
menghargai budaya dan adat istiadat yang mereka peroleh dari nenek moyang
mereka, contohnya perkampungan Bali yang ada di Teluk Kiluan yang masih
memegang teguh adat istiadat dan budaya serta perilaku sama persis seperti
masyarakat Bali yang ada di Pulau Bali. Yang paling menakjubkan lagi adalah
berdirinya pura yang bersanding dengan masjid yang digunakan beribadah untuk
orang Islam. Dengan demikian terlihat jelasnya bahwa kehidupan masyarakat
pesisir di Teluk Kiluan sangatlah memegang teguh adat istiadat yang diperoleh
dari nenek moyang mereka namun tetap menjaga keharmonisan dan kerukunan dalam
kehidupan bermasyarakat.




0 komentar:
Posting Komentar