KEHIDUPAN MASYARAKAT PESISIR LAMPUNG

On Kamis, 03 Maret 2016 0 komentar


Provinsi Lampung merupakan sebuah provinsi yang berada di paling selatan dari Pulau Sumatera dengan luas sebesar 35.376,50 km² dan terletak diantara 105°45′-103°48′ BT dan 3°45′-6°45′ LS. Bagian barat Provinsi Lampung berbatasan dengan Selat Sunda dan di sebelah timur dengan Laut Jawa. Beberapa pulau termasuk dalam wilayah Provinsi Lampung, yang sebagian besar terletak di Teluk Lampung, di antaranya: Pulau Darot, Pulau Legundi, Pulau Tegal, Pulau Sebuku, Pulau Ketagian, Pulau Sebesi, Pulau Poahawang, Pulau Krakatau, Pulau Putus dan Pulau Tabuan. Ada juga Pulau Tampang dan Pulau Pisang di yang masuk ke wilayah Kabupaten Lampung Barat.


Keadaan alam Lampung, di sebelah barat dan selatan, di sepanjang pantai merupakan daerah yang berbukit-bukit sebagai sambungan dari jalur Bukit Barisan di Pulau Sumatera. Di tengah-tengah merupakan dataran rendah. Sedangkan ke dekat pantai di sebelah timur, di sepanjang tepi Laut Jawa terus ke utara, merupakan perairan yang luas.Karena keadaan alam Lampung yang beragam maka pengembangan wilayahnya difokuskan pada pengembangan lahan bagi perkebunan besar dan pengembangan daerah pesisir untuk pariwisata dan komoditas perikanan. Jenis perkebunan yang dikembangkan di Lampung terdiri kelapa sawit, karet, padi, singkong, kakao, lada hitam, kopi, jagung, tebu, dan lain-lain. Sedangkan untuk komoditas perikanan seperti tambak udang telah mencapai tingkat nasional dan internasional. 

Lampung juga dikenal sebagai kota pelabuhan dimana Lampung merupakan pintu gerbang untuk masuk ke Pulau Sumatra. Hal ini tentunya memberi keuntungan yang luar biasa bagi Lampung karena hasil bumi yang melimpah tidak menutup kemungkinan bagi banyak industri yang tumbuh di daerah pesisir panjang, Daerah Natar, Tanjung Bintang, Bandar Jaya dan lain-lain. Kekayaan alam yang melimpah dan letak Lampung yang strategis ini tentunya membawa pengaruh yang cukup besar bagi kehidupan masyarakat Lampung itu sendiri terutama yang berada di daerah pesisir. Karena semakin banyak investasi yang ditanamkan di daerah pesisir seharusnya dapat memberi kesempatan untuk membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan tersebut sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Namun pada kenyataannya kondisi masyarakat pesisir sama sekali tidak tersentuh, mereka tetap menjadi nelayan miskin yang sangat bergantung pada hasil tangkapan ikan di laut.

Kehidupan Sosial Masyarakat Pesisir Lampung
Secara umum sifat dan karakteristik masyarakat pesisir dipengaruhi oleh beberapa jenis kegiatan seperti :
– usaha perikanan tambak
– usaha perikanan tangkap
– usaha pengolahan hasil perikanan
Usaha-usaha perikanan sendiri sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti lingkungan, musim, dan pasar. Struktur masyarakatnya pun masih sederhana dan belum banyak dimasuki oleh pihak luar karena budaya, tatanan hidup, dan kegiatan masyarakatnya relatif homogen dan tiap individu merasa punya kepentingan yang sama dan tanggung jawab dalam melaksanakan dan mengawasi hukum yang sudah disepakati bersama.
Selain itu, kehidupan masyarakat pesisir juga menunjukkan gambaran tentang sebuah kehidupan masyarakat yang relatif terbuka dan mudah menerima serta merespons perubahan yang terjadi. Hal ini dapat dimaklumi mengingat kawasan pesisir merupakan kawasan yang sangat terbuka dan memungkinkan bagi berlangsungnya proses interaksi sosial antara masyarakat dengan pendatang.
Seiring dengan perkembangan jaman, kehidupan masyarakat pesisir sekarang ini terlihat jelas semakin renggangnya solidaritas dan jalinan ikatan sosial yang ada pada masyarakat pesisir, sebaliknya yang tampak kemudian adalah menguatnya gaya hidup hedonis dan individualistis, khususnya di kalangan generasi muda. Lemahnya ikatan solidaritas ini dapat dilihat dari berbagai persoalan yang dihadapi oleh nelayan. Biasanya sangat jarang direspons secara bersama oleh nelayan lainnya. Kalaupun ada solidaritas yang terbangun terbatas dalam satu kawasan yang sama. Soldaritas sosial yang terbangun pada masyarakat pesisir tebatas pada hal-hal yang bersifat fungsi dan peran, yang lain berarti bahwa solidarits yang muncul bukan berangkat dari kesadaran akan arti penting solidaritas, tapi lebih dikarenakan fungsi dan perannya dalam sistem yang ada. Dengan tipe solidaritas seperti ini, maka tampilan realitas sosial masyarakat pesisir sebenarnya mencirikan masyarakat urban.
Kondisi tersebut mungkin tidak berlaku bagi masyarakat pesisir yang ada di Lampung, dimana rasa solidaritas dan jalinan ikatan sosial di tempat ini masih cukup tinggi. Hal ini terlihat pada kehidupan masyarakat pesisir yang ada di Teluk Kiluan, dimana di tempat tersebut terdapat berbagai macam suku dan adat istiadat yang berbeda-beda. Ada orang Bali, Jawa, dan orang Lampung asli yang tinggal di satu kawasan tanpa memandang perbedaan yang ada dan selalu hidup rukun serta senantiasa saling tolong-menolong dalam hal apapun. Mereka juga saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Selain itu mereka juga saling bergotongroyong dalam menjaga dan mengelola alam secara bijaksana agar terhindar dari kerusakan lingkungan. Semua itu mereka lakukan dengan alasan karena adanya keterikatan hati untuk menjaga warisan leluhur dan pemahaman akan pentingnya menjaga lingkungan.

Kehidupan Ekonomi Masyarakat Pesisir Lampung
Kehidupan nelayan memang sangat rentan dalam hal ekonomi apalagi ketika mereka semata-mata tergantung pada hasil penangkapan ikan dari laut. Ketika laut semakin sulit memberikan hasil yang maksimal, maka hal ini merupakan ancaman bagi keberlangsungan kehidupan ekonomi pada masa-masa selanjutnya. Meskipun dari kegiatan melaut adakalanya memberikan hasil yang melimpah, namun tak jarang pula bahkan seringkali hasilnya hanya bisa menutupi kebutuhan satu hari saja. Sementara untuk esok harinya diserahkan pada hasil tangkapan yang akan dilakukan, demikian seterusnya.
Rendahnya kehidupan ekonomi nelayan ini tidak hanya ditandai oleh banyaknya benda atau materi yang mereka miliki, tapi juga menyangkut masalah ketidakmampuan mereka mengelola masalah keuangan keluarga. Kondisi rumah tangga nelayan biasanya diwarnai oleh pola dan gaya hidup yang belum sepenuhnya berorientasi ke masa depan. Ada beberapa bentuk bantuan ekonomi yang diberikan namun hal tersebut bukan memacu kepada kemandirian dan pemerataan, tapi akhirnya bantuan tersebut hanya dapat dinikmati oleh sekelompok individu atau perorangan saja.
Berbagai bentuk bantuan dalam rangka peningkatan ekonomi nelayan tradisional baik yang diberikan oleh pemerintah maupun LSM ternyata belum mampu menjawab persoalan yang sebenarnya. Banyak bantuan yang akhirnya hanya mempaankan segelintir orang, yang pada akhirnya melahirkan toke atau juragan baru di tengah-tengah komunitas nelayan. Bantuan yang diberikan pun cenderung bersifat karitatif, tanpa diiringi oleh upaya membangun kesadaran pada komunitas nelayan itu sendiri. Sehingga yang terjadi adalah bahwa bantuan yang diberikan ibarat memberikan ikan, bukan pancing.
Kehidupan sosial masyarakat pesisir Lampung terutama yang ada di Teluk Kiluan, kondisi seperti ini juga terjadi. Kehidupan masyarakatnya cenderung sederhana dan bercukupan, dimana kepala keluarga hanya memperoleh hasil pendapatan dengan bermatapencaharian sebagai nelayan. Untuk sesekali bila ada wisatawan yang berkunjung mereka juga membantu dalam menyeberangkan wisatawan. Bentuk rumah yang mereka tinggali juga masih sangat sederhana dan bersifat semi permanen. Kapal atau perahu yang digunakan juga masih sederhana, mereka pun terkadang menyampaikan bahwa sulitnya mengajukan bantuan dana dari pemerintah padahal untuk memenuhi kebutuhan hidup sekarang ini sudah sangat mahal. 

Kehidupan Kultural Masyarakat Pesisir Lampung
Kehidupan kultural yang mewarnai masyarakat pesisir hingga saat ini sangat erat kaitannya dengan masalah nilai-nilai, sikap dan gaya hidup yang akrab dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kenyataannya ini sedemikian rupa sehingga dijalani setiap hari dan menjadi sebuah kebiasaan yang akhirnya sulit untuk dirubah. Dan akhirnya menjadi sebuah kewajaran dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Salah satu budaya masyarakat nelayan adalah menyangkut gaya hidup. Gaya hidup ini yang adakalanya mengidentifikasi gaya hidup masyarakat di perkotaan, namun tidak sepenuhnya. Hal ini terutama tergambar dari kalangan generasi mudanya. Selain itu ada pula istilah “biar rumah condong asal gulai balomak”. Gambaran ini memberi makna kurang lebih bahwa meskipun kondisi rumahmu tumbang asalkan tetap makan enak. Ini merupaakn sebuah gambaran penilaian yang sering diberikan oleh pihak luar. Gambaran lain tentang masyarakat nelayan adalah kecenderungan untuk hidup boros. Penghasilan hari ini dihabiskan hari ini juga, sehingga akhirnya nelayan tetap berada dalam keadaan yang tidak baik karena tidak pasti penghasilan yang mereka peroleh dan apakah hari ini atau esok mereka akan memperoleh penghasilan atau tidak terkadang tidak begitu dipikirkan.
Kehidupan kultural seperti yang dijelaskan di atas, tidak begitu terlihat dalam kehidupan masyarakat di Teluk Kiluan karena mereka berusaha untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak mereka dengan berusaha menyekolahkan anak mereka setinggi mungkin dengan harapan bila anaknya berhasil maka mereka dapat membangun Teluk Kiluan agar dapat berkembang menjadi kawasan wisata yang terkenal dan disukai oleh banyka wisatawan seperti kawasan wisata yang ada di Bali.
Masyarakat yang ada di Teluk Kiluan ini juga terdiri dari beberapa suku diantaranya orang Bali, Jawa, dan Lampung. Meskipu demikian tiap suku saling menghormati dan menghargai budaya dan adat istiadat yang mereka peroleh dari nenek moyang mereka, contohnya perkampungan Bali yang ada di Teluk Kiluan yang masih memegang teguh adat istiadat dan budaya serta perilaku sama persis seperti masyarakat Bali yang ada di Pulau Bali. Yang paling menakjubkan lagi adalah berdirinya pura yang bersanding dengan masjid yang digunakan beribadah untuk orang Islam. Dengan demikian terlihat jelasnya bahwa kehidupan masyarakat pesisir di Teluk Kiluan sangatlah memegang teguh adat istiadat yang diperoleh dari nenek moyang mereka namun tetap menjaga keharmonisan dan kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat.


0 komentar:

Posting Komentar